Kajian Kebudayaan Manusia Zaman Pasca Modern

Nama : Firli Dimas Adhiguno

Kelas : 1IDO1

NPM  : 32412975

Kebudayaan Pasca/Post Modern 

Dalam sejarah manusia, kita kenal tiga era atau zaman yang memiliki ciri khasnya masing-masing yaitu pra-modern, modern dan postmodern. Zaman modern ditandai dengan afirmasi diri manusia sebagai subjek. Apalagi setelah pernyataan Rene Descartes, “cogito ergo sum” yang artinya ‘aku berpikir maka aku ada’. Melalui pernyataan tersebut, manusia dibimbing oleh rasionya sebagai subjek yang berorientasi pada dirinya sendiri sehingga rasio atau akal budi manusia menjadi pengendali manusia terutama tingkah lakunya. Pada masa ini munculah berbagai macam teori yang berlaku sampai sekarang. Pada akhirnya yaitu zaman dimana kita berada sekarang yaitu zaman postmodern. Pemikiran pada periode ini menamakan dirinya postmodern, memfokuskan diri pada teori kritis yang berbasis pada kemajuan dan emansipasi. Kemajuan dan emansipasi adalah dua hal yang saling berkaitan, seperti yang dinyatakan oleh Habermas bahwa keberadaan demokrasi ditunjang oleh sains dan teknologi.
Dalam makalah ini akan dikemukakan sejarah munculnya postmodern sebagai ‘isme’ yang mengritik modernitas, juga akan dipaparkan beberapa tokoh pada periode ini beserta ajarana-ajaran pokok meraka.

II. Pengertian
Untuk memudahkan memahami postmodernisme, ada baiknya kita mengkontraskan ‘isme’ ini dengan lawan sejarah dan nuansa berpikirnya, yakni modernisme. Mengkontraskan kedua ‘isme’ tersebut dipandang perlu karena postmodernisme, dalam banyak hal, bisa dikatakan sebagai reaksi dan kritik terhadap modernisme.

a) Modernisme
Secara etimologis modern (adj.) bermakna, ‘pertaining to recent or present time’. Dalam sub bab yang bertemakan postmodernisme, Romo Tom Jacob mengartikan ‘modern’ sebagai: (1) terbaru, mutakhir; (2) sikap dan cara berpikir serta bertindak sesuai dengan tuntutan zaman.
Sedangkan menurut Kant menyebutnya sebagai, ’pencapaian transendentalisasi jauh dari imanensi manusia. Sehingga manusia bisa mencapai tingkat yang paling tinggi. Kemampuan rasio inilah yang menjadi kunci kebenaran pengetahuan dan kebudayaan modern. Di samping Kant, sejarah kematangan kebudayaan modern ditunjukkan oleh Frederich Hegel. Melalui kedua pemikir inilah nilai-nilai modernisme ditancapkan dalam alur sejarah dunia. Kant dengan ide-ide absolut yang sudah terberi (kategori). Hegel dengan filsafat identitas (idealisme absolut) (Ahmad Sahal, 1994: 13). Konstruksi kebudayaan modern kemudian tegak berdiri dengan prinsip-prinsip rasio, subjek, identitas, ego, totalitas, ide-ide absolut, kemajuan linear, objektivitas, otonomi, emansipasi serta oposisi biner.
Dalam perspektif seorang postmodernis yang berasal dari traadisi filsafat, modernisme bisa disebut sebagai ‘semangat yang diandaikan ada pada masyarakat intelektual sejak zaman renaissance (abad ke-18) hingga paruh pertama abad ke-20. Semangat yang dimaksud adalah semangat untuk progress –meraih kemajuan—dan untuk humanisasi manusia’. Semangat ini dilandasi oleh keyakinan yang sangat optimistik dari kamum modernis akan kekuatan rasio manusia.
Di era ini rasio dipandang sebagai kekuatan yang dimiliki oleh manusia untuk memahami realitas, untuk membangun ilmu pengetahuan dan teknologi, moralitas, dan estetika. Pendek kata, rasio dipandang sebagai kekuatan tunggal yang menentukan segala-galanya.
Pengakuan atas kekuatan rasio dalam segenap aktivitas manusia, berarti pengakuan atas harkat dan martabat manusia. Manusia dengan rasionya, –tentu saja sebagai subjek; pemberi bentuk dan warna pada realitas– adalah penentu arah perkembangan sejarah. Kenyataannya, modernisme adalah salah satu bentuk dari humanisme. Narasi-narasi besar modernisme yang berasal dari kapitalisme, eksistensialisme, liberalisme, idealisme, tidak bisa lain membuktikan hal itu.
Modernisme juga bisa diartikan sebagai semangat untuk mencari dan menemukan kebenaran asasi, kebenaran esensial, dan kebenaran universial. Rasio manusia dianggapa mampu menyelami kenyataan faktual untuk menemukan hukum-hukum atau dasar-dasar yang esensial dan universal dari kenyataan.

b) Postmodernisme
Secara etimologis Postmodernisme terbagi menjadi dua kata, post dan modern. Kata post, dalam Webster’s Dictionary Library adalah bentuk prefix, diartikan dengan ‘later or after’. Bila kita menyatukannya menjadi postmodern maka akan berarti sebagai koreksi terhadap modern itu sendiri dengan mencoba menjawab pertanyaan pertanyaan yang tidak dapat terjawab di jaman modern yang muncul karena adanya modernitas itu sendiri.
Sedangkan secara terminologi, menurut tokoh dari postmodern, Pauline Rosenau (1992) mendefinisikan Postmodern secara gamblang dalam istilah yang berlawanan antara lain: Pertama, postmodernisme merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalannya memenuhi janji-janjinya. Juga postmodern cenderung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas.Yaitu pada akumulasi pengalaman peradaban Barat adalah industrialisasi, urbanisasi, kemajuan teknologi, negara bangsa, kehidupan dalam jalur cepat. Namun mereka meragukan prioritas-prioritas modern seperti karier, jabatan, tanggung jawab personal, birokrasi, demokrasi liberal, toleransi, humanisme, egalitarianisme, penelitian objektif, kriteria evaluasi, prosedur netral, peraturan impersonal dan rasionalitas. Kedua, teoritisi postmodern cenderung menolak apa yang biasanya dikenal dengan pandangan dunia (world view), metanarasi, totalitas, dan sebagainya.
Postmodernisme bersifat relatif. Kebenaran adalah relatif, kenyataan (realitas) adalah relatif, dan keduanya menjadi konstruk yang tidak bersambungan satu sama lain. Hal tersebut jelas mempunyai implikasi dalam bagaimana kita melihat diri dan mengkonstruk identitas diri. Hal ini senada dengan definisi dari Friedrich Wilhelm Nietzsche sche (1844-1900) dikenal sebagai nabi dari postmedernisme. Dia adalah suara pionir yang menentang rasionalitas, moralitas tradisional, objektivitas, dan pemikiran-pemikiran Kristen pada umumnya. Nietzsche sche berkata, “Ada banyak macam mata. Bahkan Sphinx juga memiliki mata; dan oleh sebab itu ada banyak macam kebenaran, dan oleh sebab itu tidak ada kebenaran.”
Menurut Romo Tom Jacob, kata ‘postmodern’ setidaknya memiliki dua arti: (1) dapat menjadi nama untuk reaksi terhadap modernisme, yang dipandang kurang human, dan mau kembali kepada situasi pra-modernisme dan sering ditemukan dalam fundamentalisme; (2) suatu perlawanan terhadap yang lampau yang harus diganti dengan sesuatu yang serba baru dan tidak jarang menjurus ke arah sekularisme.

Kritik terhadap postmodern

Meskipun postmodernisme nampak menjanjikan dan tanpa cela, terdapat beberapa celah yang bisa menjatuhkan paham ini. Salah satunya adalah kerancuan dan ketidakpastian yang melekat pada paham ini sebagai konsekuensi dari melenturnya pemikiran manusia. Beberapa pihak masih menyangkal bahwa postmodernisme, meski memberikan solusi tengah, dinilai tidak konsisten dalam memperlakukan sesuatu. Bersikap apatis dan hanya mengkritisi, kemudian lepas tangan dan merasa aman karena tidak ingin ikut campur menyelesaikan masalah. Lebih jauh lagi, dikhawatirkan paham ini akan melahirkan medioker yang hanya ikut-ikutan mengkritisi tanpa riset lebih dalam dan hipokrit yang hanya bisa mengkritisi tanpa bertindak, atau bahkan tidak mengamini dengan perlakuan terhadap apa yang telah dikritisi.

Selain itu, post modernisme dianggap tidak konsisten, meskipun post-modernisme adalah sebuah idealisme akan menyikapi hegemoni pegrerakan dunia, post modernisme itu sendiri dianggap berpegang pada sesauatu yang tidak ingin mengukuhkan pijaknnya. Paradoks yang cukup membingungkan pihak-pihak yang mungkin memerlukan kejelasan dalam bertindak. Seringkali sikap apatis dari postmodernis ditentang oleh para penganut paham modern, karena meskipun modernisme ditentang dengan keras, tetap saja menyisakan jejak atas konsepsinya mengani dunia. Tetap saja pasar bebas dan universalisme dijunjung oleh dunia ini meski jelas-jelas ditentang.

Post modernisme pun menjadi amat sangat membingungkan. Amat abu-abu. Sangat relatif dan tidak mengukuhkan diri. Berkesan selalu takut dalam menentukan pilihan dan hanya akan mengkritisi, melahirkan manusia yang pandai mengkritisi namun ragu dalam memnentukan sikap. Hanya akan mengadirkan banyak pengamat hebat, tapi ragu dalam mengambil tindakan.

 

Modernisme dan Modernitas         

Modernitas adalah kondisi konkret pada yang dimulai pada abad pertengahan dan berbeda dengan abad sebelumnya, pada abad ini mulai muncul sekularisasi pada berbagai bidang yang berakar pada semangat berpikir bebas dan humanisme dengan peristiwa pemicu adalah:a) revolusi perancis, b) revolusi ilmu pengetahuan, c)revolusi industri di Inggris.

Pada abad pertengahan ketika budaya masyarakat pada saat itu masih didominasi oleh budaya feodal, dengan sosiologis masyarakat yang relatif kecil, tanpa pembagian kerja, pada masa ini peranan adat istiadat, tradisi dan agama memainkan peranan yang sangat penting.

Sebaliknya pada masyarakat modern secara sosiologis masyarakat adalah heterogen, industrial, dan sekuler. Sains dan teknologi memainkan peranan yang penting menggantikan peranan agama pada abad pertengah.

Fenomena modernitas mempunyai sisi negatif maupun positif, secara negatif biasanya menghilangkan nilai-nilai indah yang ada pada abad pertengahan seperti gotong royong dimana masyarakat pada waktu itu tidak diatur-atur oleh mesin, sedangakan secara positif abad modernitas telah membebaskan masyarakat dari kebodohan maupun dogmantisme semu karena masyarakat pada umumnya telah menjadi lebih sadar, bebas dan, cerdas. Sehingga seolah-olah mereka terbebas dari kegelapan yang telah membelenggu mereka selama ini.

Modernisme memiliki banyak sekali ciri khas produk gagasan-gagasan yang telah diciptakan secara garis besar ada tiga yaitu a) kapitalisme, singkatnya adalah sistem ekonomi dimana manusia dibebaskan untuk mencari keuntungan sebebas-bebasnya sehingga akan terjadi kompetisi dan melalui kompetisi itulah akan terjadi stabilitas. Pada sistem ini juga diwarnai dengan kepemilikan modal dan alat-alat prouksi oleh segelintir orang.b)Humanisme, adalah penekanan kebernilaian manusia karena manusia merupakan pusat semesta dan otonom. c)rasionalisme, singkatnya adalah kepercayaan terhadap akal budi segala klaim dapat diterima apabila dapat dipertanggung jawabkan secara rasional

Posmodernisme dan Posmodernitas

Realitas dewasa ini ditandai dengan gejala-gejala dimana munculnya kelas-kelas pekerja baru seperti guru, pengacara, akuntan dimana kelas yang baru ini sudah tidak lagi disamakan dengan eksploitasi antara kaum buruh dengan pemodal, kerja bagi mereka aalah saran untuk pemenuhan kenikmatan. Banyaknya bermunculan industri-industri yang bergerak pada bidang jasa, padahal pada abad sebelumnya industri lebih banyak didominasi oleh industri yang bergerak pada bidang produksi semisal manufaktur.

Berkembangnya teknologi informasi yang pesat juga telah membuat kerja otak menjadi lebih penting dibandingkan dengan kerja fisik, banyak sekali pekerjaan-pekerjaan yang bersifat fisik yang dulu dikerjakan oleh manusia sekarang sudah dapat dikerjakan oleh mesin dengan hasil yang lebih baik, lebih efisien dan efektif jika dipandang dari sisi waktu dan biaya produksi.

Keseluruhan realitas diatas mau tidak mau manggugurkan wacana-wacana yang ada pada aspek eksploitatif antara pemodal dan pekerja yang biasanya menjadi kritik terhadap sistem kapitalisme, dan juga menjadi jawaban atas gagalnya usaha-usaha untuk menghancurkan sistem kapitalisme karena kapitalisme itu sendiri menuruthabermas tokoh dari mazhab frankrut sudah memasuki taraf kapitalisme lanjut, dimana sudah tidak ada lagi eksploitasi model-model abad modernisme.

Fenomena yang lain adalah munculnya gerakan-gerakan sosial seperti, gerakanFeminisme, gerakan Homoseksual, Antirasisme dll. Orang pada masa ini memfokuskan dirinya pada anggota kelompok kepentingan masing bukan sebagai pemodal dan proletar.

Kemajuan teknologi telah melahirkan dunia cybernet, dunia manipulasi visual yang lebih canggih, relasi-relasi dorongan kenikmatan, hasrat maupun sosial sudah dapat dipenuhi dengan kecanggihan teknologi.

Posmodern pada bidang pemikiran membawa sejumlah filsuf atau pemikir antara lain; Foucault, Derrida, Lacan, Lytord, dan Deluze mereka semua adalah pemikir pengancur pondasi modernitas. Logos, kontinuitas, humanisme, langue adalah sesuatu yang usang bagi mereka, diganti dengan plural, diskontinuitas, dan parole.

Manusia dengan konsep sebagai kesatuan yang otonom sebenarnya sudah mendapat kritikan sebelumnya yaitu dari marx dengan konsep kesadaran palsu-nya, nietszche melalui kehendak berkuasanya, sigmund frued dengan konsep alam bawah sadarnya mereka ini sebenarnya sudah memulai kritikan terhadap modernime yang menganggap manusia sebagai pusat otonom dan sadar diri sudah tidak dapat dipertahankan lagi.

Umumnya generasi posmodernis datang dengan semangat nietszchean dengan mode pendekatan analisis strukturalis yang dipelopori oleh ferdinand de saussure. Walaupun memiliki sejumlah ketidak sepakatan konsep strukturalis, secara singkat strukturalis menyatakan bahwa kata tidak lagi merujuk pada subtansi alias tidak ada hubungan yang alamiah antara kata dengan makna atau arbiter. Bahasa bukanlah cermin dari dunia melainkan pembetuk dunia, dalam hal ini subyek tidak lagi berdiri secara otonom karena subyek itu sendiri mendapatkan pemaknaan melalui struktur-struktur bahasa yang membelenggunya.

Konsep strukturalis makna yang menetap setelah terbangunya oposisi biner yang dianggap sebagai sisa-sisa pemikiran barat dari sokrates sampai hegel, hal ini sangat bertentangan dengan khas semangat nietszchean yang berupaya untuk melakukan pembalikan terhadap tradisi plato dengan ciri khas logosentrisme. Sebagai gantinya mereka berpendapat bahwa makna tidak stabil, plural, dan senantiasa berubah.

Perlawanan atau upaya untuk melakukan dekontruksi melalui media terhadap praktek-praktek diskursif berkuasa yang men sub-ordinasi makna yang lain merupakan ciri khas dari mereka seperti; laki-laki/perempuan, heteroseksual/homoseksual, rasional/irasional, Anglo saxon/ kulit berwarna, dimana kata yang pertama merupakan kelompok dominan sedang yang lain adalah sub ordinat.

Dalam kasanah dunia literatur yang baru posmodern sebagai pemikiran juga turut mewarnai pondasi gerakan-gerakan yang terbilang baru saat ini seperti culture studies bersama-sama dengan pokok pemikiran-pemikiran lama seperti hermeneutika, marxisme, maupun psikoanalisis yang tentunya juga dengan derevasi-derevasinya.

Tulisan diatas hanya merupakan sekelumit banyak hal yang tidak tersampaikan dalam tulisan ini tapi diharapkan bisa dijadikan pengantar bagi pembaca untuk memahami apa itu posmodern itu, sebagai salah satu kajian filsafat dewasa ini.

Bagaimana dengan Indonesia, dari aspek industri tentunya tidak serta merta kalau Indonesia telah mengalami kemajuan teknologi seperti negara-negara yang lain. permasalahan yang sedemikian kompleks mulai dari sosial. Pendidikkan, politik, dan, ekonomi?.

Tapi kalau diperhatikan dengan benar di negeri ini dari dulu sampai sekarang selalu upaya-upaya praktek pemarginalisasian dari berbagai macam segi baik bersifat fisik maupun non fisik, berlangsung secara historis dan membentuk penanda-penanda yang tidak dipertanyakan atau meminjam ungkapan Karl Marx yaitu kesadaran palsu. Proses marginalisasi terhadap diskursus-diskursus yang lain di negeri ini semata-mata hanya untuk memperkuat rezim yang berkuasa, pada semua rezim mulai presiden yang pertama sampai dengan terakhir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s