Tulisan 1 “Salah Satu Upacara Tradisional di Indonesia”

Nama              : Firli Dimas Adhiguno

NPM                : 32412975

Kelas               : 2ID02

Mata Kuliah   : Ilmu Sosial Dasar (softskill)

Dosen             : Mei Raharja

 

UPACARA LABUHAN KESULTANAN DI PANTAI LAUT SELATAN  (YOGYAKARTA)

Upacara labuhan merupakan salah satu upacara adat yang sejak jaman kerajaan Mataram Islam pada abad ke XIII hingga sekarang masih diselenggarakan secara teratur dan masih berpengaruh dalam kehidupan sosial penduduk di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Masyarakat meyakini bahwa dengan upacara labuhan secara tradisional akan terbina keselamatan, ketentraman dan kesejahteraan masyarakat dan negara. Meskipun yang menyelenggarakan upacara labuhan adalah keraton, namun dalam pelaksanaannya di lapangan, rakyat juga turut serta. Masyarakat merasa ikut memiliki upacara adat itu dan menganggap upacara labuhan adalah suatu kebutuhan tradisional yang perlu dilestarikan.

Salah satu upacara kraton yang dilaksanakan oleh para Sultan se¬jak Sultan Hamengkubuwono I adalah upacara adat yang dalam isti¬lah Jawa disebut labuhan. Upacara ini biasanya dilaksanakan di em¬pat tempat yang letaknya berjauhan. Masing-masing tempat itu mempunyai latar belakang sejarah tersendiri sehingga pada. masing-masing tempat tersebut perlu dan layak dilakukan upacara labuhan

  • Tempat yang pertama ialah Dlepih, disebut juga Dlepih Kahyangan, terletak di Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Propinsi Jawa Tengah.
  • Tempat yang kedua adalah Parangtritis, di sebelah selatan kota Yogyakarta, di tepi Lautan Indonesia (Laut Selatan).
  • Tempat yang ketiga ialah di Puncak Gunung Lawu, di perbatasan Surakarta dan Madiun, yang membatasi daerah Jawa Tengah dan dae¬rah Jawa Timur.
  • Tempat yang keempat adalah di Puncak Gunung Merapi, letak¬nya termasuk wilayah Sleman, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Upacara labuhan tersebut merupakan pemberian atau persembahan (pisungsung-Jw) yang dilakukan di tempat-tempat tertentu, sesuai dengan kepercayaan bahwa di tempat tersebut pernah terjadi peristiwa penting yang berkenaan dengan para leluhur raja

Upacara pemberian atau persembahan yang dikaitkan dengan para leluhur dan makhluk-makhluk halus tersebut jelas merupakan kultus leluhur, animisme dan dinamisme. Pada prakteknya kemudian upacara itu dipadukan dengan unsur-unsur agama Islam, yaitu dengan diiringi doa dan selawat. Ada mantera-mantera yang diucapkan dalam bahasa Arab dan menurut kaidah-kaidah yang berlaku. Ada pula yang dibacakan dengan ucapan yang bercampur baur antara bahasa Jawa dan Arab.

 Upacara labuhan yang bersifat religius ini hanya boleh dilakukan atas titah serta atas nama raja sebagai kepala kerajaan, kepala pemerintahan dan pemangku adat keraton. Tahap-tahap persiapan yang dilakukan di dalam kraton, segala sesuatunya hanya dikerjakan oleh para sanak keluarga saja, dibantu oleh para punggawa kraton. Pada pelaksanaan di luar kraton sampai ditempat-tempat upacara labuhan, harus dengan tata cara protokoler yang ketat. Juru kunci adalah pelaksana yang bertindak atas nama raja. Ia juga adalah punggawa kraton yang diangkat dari kalangan rakyat setempat. Juru kunci diberi hak untuk memiliki benda-benda yang telah selesai dilabuh, tatapi seringkah juga benda-benda tersebut diperebutkan oleh para pembantu juru kunci tersebut.

Menurut tradisi Kraton Kesultanan Yogyakarta, upacara labuhan dilakukan secara resmi dalam rangka peristiwa-peristiwa sebagai berikut:

  •  Penobatan Sultan;
  • Peringatan hari Ulang Tahun Penobatan Sultan yang disebut “Tingalan Panjenengan” atau “Tingalan Dalem Panjenengan” atau “Tingalan Jumenengan”;
  • Peringatan hari “windo” hari ulang tahun penobatan Sultan. “Windon” berarti setiap delapan tahun.

Selain dari ketiga rangka peristiwa di atas, upacara labuhan dapat juga diselenggarakan untuk memenuhi hajat tertentu dari Sri Sultan, misalnya apabila Sri Sultan menikahkan putera-puterinya.

Beberapa hari menjelang pelaksanaan upacara labuhan, Sri Sultan menyerahkan guntingan-guntingan kuku dan guntingan-guntingan rambut untuk ditanam di tempat-tempat tertentu di pantai Parangtritis. Pakaian-pakaian bekas Sri Sultan harus ditanam di tempat itu.
Benda-benda dan bahan-bahan lain yang dipersiapkan untuk: kemenyan, bahan kosmetika tradisional, ‘konyoh’ minyak wangi, rokok klobot wangi, tikar, nampi, bubuk dupa (cupu), pundi-pundi (kampek), mata uang dan beberapa tempat khusus untuk minyak wangi, atau bubuk dupa. Selain benda-benda ini masih banyak lagi benda kelengkapan lain yang menyertai persiapan suatu upacara labuhan, seperti benda-benda sesaji dan pusaka-pusaka kraton.

Tidak mengherankan jika upacara tradisional yang langka ini banyak menarik minat wisatawan untuk menyaksikannya. Suasana khidmat upacara, keberanian para pembantu juru kunci melaksanakan labuhan di lautan serta keramaian masyarakat memperebutkan benda-benda labuhan, semakin membuat acara labuhan menjadi menarik disaksikan.

Upacara labuhan tidak saja telah memenuhi ketentuan tradisi yang dijunjung tinggi, tetapi sekaligus juga merupakan obyek wisata yang sangat dikagumi oleh para wisatawan.

Sumber : http://kebudayaanindonesia.net

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s